Jack Skellington Background

Hello!!

selamat datang di blog sayaa......
Tampilkan postingan dengan label CONTOH PROPOSAL MAKUL SOSIOLOGI ANTROPOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CONTOH PROPOSAL MAKUL SOSIOLOGI ANTROPOLOGI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Desember 2011

GAYA HIDUP KONSUMTIF DI KALANGAN MAHASISWA UNNES SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRESTISE DALAM LINGKUNGAN KAMPUS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Saat ini masyarakat telah mengalami banyak
telah beralih fungsi, perkembangan, seperti perkembangan teknologi, gaya hidup, ekonomi, bahkan aturan aturan yang ada dalam masyarakat dengan berubahnya sistem adat istiadat yang mereka punya. Perubahan ternyata juga tidak hanya dialami di masyarakat modern saja, tetapi masyarakat tradisional juga seperti yang dialami oleh masyarakat di daerah Sekaran, Semarang, tepatnya di wilayah kampus UNNES. Disini akan dibahas mengenai kehidupan mahasiswa yang telah mengalami perubahan dalam perkembangan teknologi beserta informasi dikawasan kampus UNNES, bukan masyarakat Sekaran. Perkembangan zaman yang semakin modern serta kehidupan manusia selalu berubah silih berganti, begitupula dalam kehidupan ekonomi dan sosialnya.
Gaya hidup merupakan istilah yang sedang populer saat ini dalam masyarakat. Gaya hidup masyarakat Sekaran saat ini telah mengalami perubahan dan perkembangan seiring berkembangnya jaman. Dahulu masyarakat tidak terlalu mementingkan urusan penampilan dan gaya hidup. Mereka lebih mementingkan masalah kebutuhan pokok daripada masalah penampilan,tetapi sekarang berbeda keadaannya ,karena kini urusan penampilan dan gaya hidup mulai menjadi perhatian serius.
Kita akan membahas mengenai gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa UNNES sebagai upaya peningkatan prestise dalam lingkungan kampus. Terjadinya perubahan ekonomi yang ada dalam mahasiswa UNNES disebabkan oleh mahasiswa lain yang tingkat ekonominya lebih tinggi, pencitraan pergaulan yang lebih luas, pengetahuan teknologi dan informasi yang lebih modern, dan beberapa penyebab lainnya. Dimana cara hidup mahasiswa berubah mulai dari cara mereka berpakaian, bersosialisasi, dan berbagai kegiatan lainnya yang dapat mempengaruhi tingkat kehidupan yang dianggap modern, gaul, keren, oleh mahasiswa.
Perubahan sosial merupakan bagian dariperubahan kebudayaan, perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, bahkan perubahan dalam bentuk serta aturan organisasi sosial. Modernisasi merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan sosial dan budaya Indonesia. Modernisasi digunakan untuk menunjuk pada berbagai tahapan perkembangan sosial yang didasarkan pada industrialisasi, pertumbuhan ilmu dan teknologi, negara bangsa modern, pasar dunia kapitalis, urbanisasi, dan berbagai unsure infrastruktur lainnya. Penyebab utama lain dalam perubahan sosial dan budaya di Indonesia yaitu globalisasi. Masyarakat telah mampu melakukan transaksi ekononomi dan informasi dalam waktu singkat melalui teknologi satelit dan komputer. Misalnya adalah para mahasiswa yang pesan pakaian, sepatu, dan tas melalui online shop  agar lebih praktis dalam mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Masyarakat yang terpengaruh budaya global secara sadar atau tidak telah memiliki suatu pola perilaku baru yang khas. Pola perilaku tersebut merupakan sebuah proses pembentukan gaya hidup. Ini berarti bahwa perubahan sosial dan budaya di Indonesia yang disebabkan oleh globalisasi dan modernisasi salah satunyan tampak pada gaya hidup masyarakat.
Gaya hidup bagian dari kehidupan sosial sehari- hari yang telah menjadi trend yang semakin berubah ke arah suatu keniscayaan ketika didalamnya media massa juga turut berperan dan menjadi hal penting dalam membentuk pola budaya konsumtif. Sebelum terjadi budaya konsumtif, awalnya masyarakat hanya mengkonsumsi barang untyk kebutuhan produksi dan konsumsi yang cukup. Namun sekarang semuanya masyarakat sekarang lebih suka mengkonsumsi segala sesuatunya dengan berlebihan. Media massa telah member klaim rasa kepercayaan diri dan eksklusif kepada masyarakat. Maka diperoleh juga prestise, status, kelas, dan symbol sosial tertentu. Konsumerisme dalam kehidupan modern menjelma menjadi sesuatu yang harus segera dipenuhi dan dipuaskan kebutuhannya. Identitas diri ditunjukan dengan berbagai macam produk unggulan yang masyarakat gunakan, diperoleh melalui iklan media massa. Akhirnya masyarakatpun mengabaikana tentang nilai dan kegunaan dari berbagai macam barang yang dibeli, sehingga budaya konsumtif memang telah menjadi gaya hidup masyarakat.
Gaya hidup konsumtif meliputi seluruh kelompok masyarakat termasuk mahasiswa. Mahasiswa merupakan sekelompok pemuda yang seharusnya mengisi waktunya dengan menambah pengetahuan, ketrampilan, dan keahlian, serta mengisi kegiatan mereka dengan berbagai macam kegiatan positif sehingga akan memiliki orientasi ke masa depan sebagai manusia yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa. Tetapi. Kehidupan kampus telah membentuk gaya hidup khas dikalangan mahasiswa dan terjadi akulturasi sosial budaya tinggi dalam mempertahankan prestise dari masing-masing individu. Sebelum terjadi globalisasi dan modernisasi masih banyak mahasiswa yang berorientasi ke masa depan dan jarang melakukan hal-hal yang aneh. Berbeda dengan sekarang, mahasiswa berubah dalam hal berpakaian, pergaulan, pemakaian uang dan kbutuhan lain yang menjadi berlebihan, tidak sesuai kebutuhan. Modernisasi yang dilakukan oleh mahasiswa masa kini cenderung ke arah westernisasi. Terjadi proses peniruan budaya barat yang menurut mahasiswa lebih oke dibanding budaya sendiri. Jadi yang ditiru sebatas pada mode, padahal yang diharapkan oleh modernisasi adalah rasionalitas dan cara berfikir yang tangkas.
Kampus yang seharusnya digunakan sebagai tempat memperoleh ilmu pengetahuan namun sekarang malah dijadikan ajang pamer penempilan dan kekayaan semata. Sehingga ketika banyak mahasiswa menrapkan gaya hidup konsumtif, kehidupan dikampus semakin tidak jelas. Mahasiswa yang cenderung memiliki kelebihan kekayaan menjadi mudah terpengaruh untuk memenuhi gaya hidup yang konsumtif tersebut. Mahasiswa akan dianggap mengikuti perkembangan jaman apabila telah mebeli dan memakai barang-barang dengan merk terkenal. Sebagian mahasiswa lain yang berada dalam tingkat ekonomi menengah juga mengikuti gaya hidup konsumtif akibat tuntutan pergaulan. Sehingga sebagian besar mahasiswa masa kini hanya mementingkan penampilan saja. Berkembangnya gaya hidup konsumtif mencakup semua aliran gender baik laki-laki maupun perempuan. Uang saku mahasiswa lebih dipentingkan untuk membeli berbagai macam barang bermerk untuk mengikuti trend terkini disbanding untuk membeli perlengkapan kampus yang lebih penting seperti buku-buku pendukung perkuliahan.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana cara mahasiswa UNNES bergaul demi meningkatkan kebutuhan prestise di dalam kehidupan kampus?
2.      Faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi gaya hidup konsumtif mahasiswa UNNES?

C.     TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui, mengungkap, dan mendeskripsikan tentang sejauh mana pengaruh teknologi dan informasi yang semakin berkembang pesat selain pengaruh antar mahasiswa lain terhadap gaya hidup mahasiswa yang berperilaku konsumtif dari cara mahasiswa UNNES bergaul demi meningkatkan kebutuhan prestise di dalam kehidupan kampus. UNNES. Kemudian mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidu konsumtif mahasiswa UNNES. Tentu pengaruh tersebut tidak lepas dari baik atau buruknya dampak semakin pesatnya kemajuan teknologi dan informasi bagi perubahan gaya hidup yang dialami mahasiswa

D.    MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan pada umumnya dan disiplin ilmu sosiologi dan antropologi pada khususnya, terutama dalam bidang kajian ekonomi dan sosial. Serta dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk penelitian lebih lanjut yang berkenaan dengan masalah-masalah ini. Terutama mengenai gaya hidup mahasiswa dalam kehidupan kampus yang mencakup pola hidup konsumtif .



2. Manfaat Praktis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi para pembuat kebijakan yang berkaitan dengan aspek sosial ekonomi mahasiswa UNNES dalam berperilaku mengenai gaya hidupnya supaya tidak berperilaku konsumtif. Sebagai  informasi kepada mahasiswa agar lebih mengetahui bagaimana gaya hidup konsumerisme dan faktor yang mempengaruhinya sehingga mahasiswa bisa mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan gaya hidup konsumerisme secara berlebihan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA,  LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR

A.    TINJAUAN PUSTAKA
Berbagai hasil penelitian tentang gaya hidup mahasiswa tentunya sudah banyak dilakukan dengan berbagai macam kebiasaan didalamnya. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Wulan Nindya Mantri (2007) tentang ”perbedaan gaya hidup konsumtif mahasiswa UNNES dan UNIKA dalam kehidupan kampus”, yang menjelaskan bahwa mahasiswa konsumtif merupakan mahasiswa yang berpenampilan mengikuti mode di dalam atau di luar kampus, sering pergi ke tempat-tempat yang dapat meningkatkan citra pergaulannya dan sering melakukan kegiatan belanja atau sering disebut shoping oleh mahasiswa pada umumnya. Barang-barang yang menarik intuk dikonsumsi oleh mahasiswa adalah barang-barang yang dapat mendukung penampilan dan barang-barang yang dapat memenuhi hobi. Mahasiswa konsumtif seringnya membeli barang-barang baru padahal barang-barang yang lama belum rusak atau masih dapat digunakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup konsumtif mahasiswa dalam kehidupan kampus yaitu : a. perilaku pergaulan mahasiswa, b. kehidupan ekonomi mahasiswa, c. pengaruh informasi dan teknologi, d. didikan dari orangtua dan keluarga.
Kemudian, begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Hany Sukmawati (2009) tentang “latar belakang keterlibatan mahasiswa dalam kelompok band”, yang menjelaskan bahwa sebagian mahasiswa yang mengikuti band berasal dari keluarga ekonomi menengah keatas. Biasanya mahasiswa yang mengikuti band dulunya merupakan siswa yang memiliki prestasi yang baik di sekolahnya dan lebih mudah untuk bersosialisasi terhadap orang lain. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi mahasiswa untuk ikut dalam kelompok band, diantaranya : untuk mengembangkan bakat yang dimiliki, untuk mengikuti gaya dari artis/ band idolanya, untuk mendapatkan penghargaan dari masyarakat, dan tujuan lainnya untuk menarik lawan jenis. Ini merupakan gaya hidup yang dilakukan mahasiswa agar mendapat tanggapan yang baik tentang dirinya, bahwa mahasiswa yang mengikuti band itu keren, gaul,popular, dan lain sebagainya.
Dengan meninjau penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti mengenai gaya hidup mahasiswa, ternyata mengarah kepada perilaku konsumtif yang bertujuan untuk meningkatkan prestise. Gaya hidup merupakan istilah yang sedang populer saat ini dalam masyarakat. Dahulu masyarakat tidak terlalu mementingkan urusan penampilan dan gaya hidup. Mereka lebih mementingkan masalah kebutuhan pokok daripada masalah penampilan, tetapi sekarang berbeda keadaannya karena kini urusan penampilan dan gaya hidup mulai menjadi perhatian serius, tertama dkalangan mahasiswa. Perkembangan disegala bidang terjadi sekarang ini baik secara langsung maupun tidak langsung menuntut masyarakat untuk mampu beradaptasi dengan berbagai bentuk perubahan dan pembaharuan. Banyak mahasiswa yang melakukan apa saja untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Mahasiswa di kampus UNNES, terutama perempuan berlomba- lomba mengenakan pakaian mahal dari berbagai jenis merk yang tersedia di pasaran. Tujuan mereka adalah untuk mendukung penampilan dan memperlihatkan bahwa pakaian yang mereka pakai itu mahal, tidak semua orang dapat memiliki pakaian tersebut.
Kebiasaan dugem dimalam hari juga merupakan kebiasaan mahasiswa yang selanjutnya sudah dipandang sebagai gaya hidup masa kini. Sebenarnya, inti dari seluruh permasalahan gaya hidup yang dilakukan oleh mahasiswa adalah bertujuan untuk meningkatkan prestise. Mahasiswa yang selalu bersaing dalam kegiatan yang harus selalu dianggap baik dan tinggi nilainya, tidak lepas dari gengsi yang dimilikinya. Mahasiswa tidak mau dianggap kuper, kuno, cupu, baik dalam hal berpakaian maupun dalam hal pergaulan. Kenyataannya, mahasiswa yang membeli barang-barang mahal demi memenuhi kebutuhan dan agar selalu dianggap up to date tidak selamanya kaya. Mahasiswa rela meminjam uang untuk membeli barang bermerk, melakukan hal yang selalu berhubungan dengan perlombaan meningkatkan citra pergaulan dikalangan mahasiswa. Tingkat konsumsi yang berlebihan cenderung mengarah ke ajang memamerkan barang, dan mengarah pada kesenjangan social yang semakin jauh antara mahasiswa yang mempunyai gaya hidup mewah dengan yang memiliki gaya hidup sederhana. Mahasiswa terbawa oleh kebiasaan-kebiasaan yang ditimbulkan dari adanya para mahasiswa lain yang kehidupan ekonominya sudah terbiasa tinggi baik dalam sikap maupun perilakunya, terpengaruh tekhnologi yang semakin tinggi peradabannya.


B.     LANDASAN TEORI

1.      GAYA HIDUP DAN PRESTISE
Toffler (Subandy 2000: 165) mengemukakan bahwa gaya hidup yaitu alat yang dipakai individu untuk mengidentifikasi dengan subkultur-subkultur tertentu sehingga gaya hidup dipakai seseorang dalam bertingkah laku dan mempunyai konsekuensi dalam membentuk pola perilaku tertentu. Misalkan saja menyangkut gaya hidup sehat seorang individu. Untuk merubah gaya hidup sehat seorang individu maka yang diubah bukan hanya individunya saja namun juga lingkungan social dan kondisi tempat tinggal yang mempengaruhi pola perilaku individu tersebut.
Mintel (dalam Chaney 1996: 70) menyebutkan terdapat beberapa jenis tren gaya hidup. Beberapa jenis tren gaya hidup tersebut antara lain:
a.       Pakaian
b.      Musik
c.       Tempat wisata, makan, dan minum
d.      Penampilan pribadi
e.       Tabungan
f.       Buku
g.      Hobi
h.      Olahraga
i.        Kendaraan
Pada saat ini banyak barbagai industri yang menyebabkan banyak masyarakat semakin mementingkan gaya daripada isi maupun fungsinya yaitu industri mode atau fashion, industri kecantikan, industry kuliner, pusat perbelanjaan, apartemen beserta perumahan real estate, makanan cepat saji, handphone, industri iklan dan televisi. Hal ini juga mempengaruhi mahasiswa untuk berperilaku konsumtif demi kebutuhan prestise. Prestise merupakan sebuah keinginan dan harapan untuk kita wujudkan. Namun sesaat kadang kita berfikir, bahwa seberapa besarkah sebuah prestise ini menjadi sebuah kebutuhan dalam kalangan mahasiswa. Apakah prestise itu adalah sebuah cita-cita atau harapan diri, atau malah prestise adalah sesuatu hal yang memang pada dasarnya  pantas untuk didapatkan dari sebuah hasil yang dilakukan yang ini akan timbul dengan sendirinya, tanpa diburu, tanpa dikejar-kejar. Alami dari hasil sebuah proses yang kita lakukan. Di sana ada kata keikhlasan yang akan melahirkan pesona seseorang yang luar biasa.
Seperti halnya mahasiswa dengan gaya hidupnya yang mewah, selalu menggunakan barang-barang bermerek untuk mendapatkan pujian atau ketertaikan bagi mahasiswa lain. Kebanyakan dari mahasiswa yang konsumtif  apalagi penggemar merek tentu tidak asing lagi dengan merek-merek yang mendunia. Sebut saja untuk dunia fashion banyak dikenal Armani, Versace, Guess, Dolce & Gabbana dan belum lagi jebolan desainer kota mode yang banyak diburu mahasiswa Indonesia terutama UNNES. Untuk sepatu dan tas seperti Louise Vuiton, Gucci, Prada, Nevada, Fladeo, FLD, ST Yves sampai merek lokal seperti Yongki Komaladi. Tak ketinggalan pula, merek parfum yang sering diburu antara lain Calvin Klein, Kenzo, Coco Channel, Escada, Paris Hilton, J-lo dan Kylie Minogue. Banyak yang mengatakan merek ialah identitas diri, makin ekslusif merek maka makin dikenal siapa dan seberapa besar pengaruh orang itu. Ketika mereka mengkonsumsi barang bermerek yang menjadi gaya hidup sebuah nilai prestise berharga bagi mahasiswa. Dalam tingkatan mahasiswa seolah terjadi peng-kelas-an atau strata sosial, karena terdapat anggapan bahwa apabila seseorang menggunakan stelan prada, membaca majalah life style serta memanjakan diri di tempat pusat kecantikan “elit” Centre de Beaute adalah manusia modern  masa kini.

2.      KONSUMTIF
Istilah konsumtif berasal dari kata konsumsi yang berarti penggunaan barang atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan sehari- hari yang bisa berhubungan dengan masalah selera, identitas, dan gaya hidup (Webber dalam Ensiklopedi Ekonomi, Bisnis, dan Manajemen1992: 199). Jadi konsumsi berkaitan dengan jumlah pengeluaran untuk membeli berbagai jenis barang dan jasa dalam tingkat pendapatan dan jasa dalam tingkat pendapatan dan jangka waktu tertentu.
Awal munculnya perilaku konsumtif terjadi dalam masyarakat kapitalis seperti dalam masyarakat Inggris. Srinati (2004: 269-270) menceritakan secara singkat bahwa mulanya kebutuhan utama masyarakat kapitalis adalah untuk memantapkan kondisi produksi sehingga mesin maupun pabrik yang menghasilkan barang –barang harus dibuat dan terus menerus diperbaharui namun kebutuhan akan konsumsi mulai muncul dan selanjutnya orang perlu memperoleh suatu etika kesenangan atau konsumen selain etika kerja. Semakin meningkatnya kemakmuran dan waktu senggang maupun kemampuan bagian penting kelas pekerja untuk terlibat dalam berbagai macam kegiatan konsumtif.
Dengan meluasnya kehidupan kehidupan kota yang memiliki sisi-sisi budaya, sosial dan kejiwaannya sendiri, maka perilaku konsumtif telah muncul sebagai cirri-ciri menonjol dalam kehidupannya. Kegemaran atau hal-hal yang disukai konsumen terbentuk melalui pembangunan pusat-pusat kota sebagai tempat hiburan yang berlebihan, system penerangan listrik dan transportasi umum, restoran, café, salon-salon mewah, bioskop, pusat-pusat perbelanjaan, kebiasaan pameran, dan lain-lain (Chaney 1996: 58-59). Dengan adanya pembangunan-pembangunan tersebut merupakan salah satu faktor yang meningkatkan banyaknya perilaku konsumtif diberbagai negara, termasuk Indonesia dan terutama dikalangan kampus seperti UNNES.  
Salah satu perubahan sosial yang menyertai kemajuan ekonomi di Indonesia beberapa tahun terakhir ini adalah perkembangan berbagai gaya hidup, sebagai fungsi dari diferensiasi sosial yang tercipta relasi sosial dalam hal konsumsi. Didalam perubaahan tersebut, konsumsi tidak lagi sekedar berkaitan dengan nilai guna dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia tertentu, akan tetapi kini berkaitan erat dengan unsur- unsur simbolik untuk menandai kelas, status, prestise, atau simbol sosial tertentu. Konsumsi mengexpresikan posisi sosial dan identitas seseorang dalam kehidupan sosial masyarakat. Yang dikonsumsi tidak lagi sekedar objek tetapi juga makna- makna sosial yang tersembunyi di baliknya. Kecenderungan seperti ini oleh pemikir sosial dan budaya  Eropa pada umumnya disebut sebagai budaya konsumerisme ( Piliang, 2004: 179).
Sebenarnya perilaku konsumtif adalah keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan hanya untuk mencapai kepuasan maksimal batin mahasiswa. Perilaku konsumtif terjadi karena telah banyaknya tempat-tempat hiburan, mall dan tempat perbelanjaan, café, dan lain-lain sehingga pola konsumsi telah berubah yang mulanya hanya untuk memenuhi kebutuhan menjadi sarana pembentukan identitas diri dalam pergaulan sehari- hari. Perilaku konsumtif tersebut dialami juga oleh mahasiswa pada umumnya. Mahasiswa yang sebaiknya beraktivitas di dalam kampus untuk melakukan kegiatan- kegiatan yang bermanfaat malah lebih memilih menghabiskan waktunya  berada di mall untk mengkonsumsi barang barang yang kurang diperlukan dan berada di tempat hiburan malam demi kepuasan semata untuk meningkatkan prestise. Ini berarti yang diinginkan mahasiswa dalam setiap perilaku konsumtifnya  seperti untuk mendapatkan pakaian, handphone, sepatu, serta tempat-tempat yang menawarkan gaya hidup modern yaitu café, restoran cepat saji, club malam, dan lain-lain.
3.      MAHASISWA DAN KEHIDUPAN KAMPUS
Pengertian mahasiswa adalah komunitas yang diharapkan dapat menerapkan pendidikan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dikemukakan oleh ishak (Fauzi 1991: 221) bahwa mahasiswa merupakan seorang individu yang sedang menjalani kurun waktu tertentu dalam dunia pendidikan, terjembatinya atau dikomunikasikannya antara masa pendidikan teoritis dengan masa pendidikan yang mulai mencocokan realitas sosial di luar lingkungan kampus dengan kaidah-kaidah teoritis yang mereka pelajari dan disinilah bermula wawasan idealism sebagai akibat hasil refleksinya antar pengetahuan social yang ada dengan kaidah nilai universal yang mereka pelajari atau yakini.
Tiap mahasiswa mempunyai identitas sendiri baik itu karekter, sifat yang ada dalam diri sendiri ataupun identitas yang melekat dalam diri manusia berasal dari luar misalnya status sosialnya dimata manusia lain. Perilaku individu dapat dipelajari dengan identitas yang muncul baik itu sifat, sikap, kata-kata (penrnyataan) atau perbuatan yang dilakukan mahasiswa. Dengan demikian mahasiswa denga pendidikan yang dimilikinya maka akan memperoleh ruang interaksi dan mobilitas yang luas tidak hanya didalam kampus namun juga diluar kampusnya. Interaksi dan mobilitas yang dilakukan mahasiswa bisa sebagai bentuk pencarian di identitas seorang mahasiswa.
Seiring perkembangan jaman yang ditandai dengan merebaknya berbagai bentuk gaya hidup modern, mahasiswa yang diharapkan mempunyai kemampuan sebagai agent of change tersebut telah banyak berkurang. Mahasiswa dating dari berbagai daerah. Kehidupan dikampung asalnya tentu berbeda dengan kehidupan disekitar kampus yang mayoritas telah terpenuhi oleh fasilitas-fasilitas gaya hidup modern. Maka mahasiswa yang sudah terlena dengan berbagai fasilitas-fasilitas tersebut akan menjadi individu yang tidak mampu memilih hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sehingga senantiasa membeli banyak barang baru untuk mengikuti tren perekembangan jaman. Mahasiswa yang seperti itu akan menjadi mahasiswa yang memiliki gaya hidup konsumtif. Sebaliknya mhasiswa yang tidak terpengaruh akan tetap konsisten pada tujuannya menjadi seorang mahasiswa yang sebenarnya yaitu menuntut ilmu dalam perkuliahan atau berorientasi pada akademisnya. Layaknya dikampus UNNES.
Mahasiswa merupakan suatu kelompok pemuda yang kelak akan berhasil memperoleh pendidikan yang memadai, luas jaringan informasi serta merasa intim dengan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Alfian (1986: 85) mengemukakan ada tiga hal atau sifat yang mewarnai persepsi, sikap dan tingkah laku mahasiswa maupun kelompok pemuda sebagai orang-orang muda yang berhasil menjadi pejuang nasionalis dan endekiawan bangsa yang bermutu dan berintegritas tinggi yaitu:
a.       Keberanian mereka untuk memahami diri dan bangsanya secara jujur dan kriris
b.      Keterbukaan terhadap pembaharuan dan perubahan
c.       Rasa kesetiakawanan atau solidaritas yang dalam terhadap sesama bangsanya.
Maka kampus atau perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi sarana membentuk karakter mahasiswa seperti yang dikemukakan oleh Alfian diatas sehingga mampu menjelma sebagai generasi penerus dalam mempelopori kemajuan bangsa dan dapat memcahkan segala konflik atau ketimpangan- ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat.
Kampus dianggap sebagai tempat belajar yang cukup kompeten karena mahasiswa dapat menggantungkan impian, cita- cita, dan masa depan. Ruang kuliah sebagai pusat ilmu dimana mahasiswa tak sekedar dating untuk kuliah, ujian, dan kumpul tetapi kampus menjadi agen pengembangan bakat dan penanaman nilai-nilai, sehingga dari ruang kuliah dan berbagai kegiatan kampus itu diharapkan akan lahir mahasiswa yang kreatif, kritis, bertanggungjawab, dan bermoral.
Dalam penelitian ini kehidupan kampus dijadikan sebuah tempat berlangsungnya gaya hidup konsumtif mahasiswa. Kampus yang seharusnya hanya sarana belajar mahasiswa kini dengan berbagai factor yang mempengaruhi berkembangnya gaya hidup konsumtif dikalangan mahasiswa, kampus lantas berubah menjadi tempat ajang pamer penampilan dan gaya hidup. Kampus yang dijadikan lokasi penelitian ini adalah UNNES. Untuk itu diperlukan teori untuk memperjelas pokok bahasan gaya hidup mahasiswa dalam rangka memenuhi kebutuhan prestise. Teori itu antara lain :
a.      Teori interaksionisme simbolik
Diawali dari karya Mead yang membahas tentang interaksionisme simbolik dari filsafat pragmatisme behaviorisme phiskologis (Joas, 1985; Rock, 1979). Ada tiga hal penting dalam interaksionisme simbolik:
1)   pusat perhatian interaksi antar aktor dan dunia nyata,
2)   memandang baik actor dan dunia nyata sebagai suatu proses dinamis dan bukan sebagai struktur yang statis,
3)   arti penting yang dihubungkan kepada kemampuan aktor untuk menafsirkan kehidupan sosial.
Menurut John Dewey (Sjoberg et al., 1997), bahwa pemusatan perhatian pragmatisme dalam interaksionisme simbolik didasarkan karena membayangkan pikiran sebagai sebuah proses berpikir yang meliputi serentetan tahapan, mencakup: pendefinisian objek dalam dunia sosial, melukiskan kemungkinan akibat dari tindakan, menghilangkan kemungkinan yang tidak dapat dipercaya dan memilih cara bertindak yang optimal (stryker, 1980). Dalam hal ini mahasiswa dibayangkan sebagai agen yang bebas, tetapi mahasiswa dan kesadaran serta perilaku mereka dikendalikan oleh komunitas yang luas seperti halnya cara mereka bergaul dalam lingkungan kampus.
Behaviorisme radikal Watson (Bucley, 1989) memusatkan perhatian pada perilaku individual yang dapat diamati. Sasaran utamanya ada pada perilaku yang mendatangkan rerpon (stimulus). Hal ini bertentangan dengan Mead yang mengakui arti penting yang diamati, dimana ada aspek tersembunyi dan perilaku yang diabaikan oleh behavior radikal. Ia lebih mengembangkan ilmu pengetahuan empiris behavior terhadap fenomena, yaitu terhadap apa yang terjadi antara stimulus dan respon. Seperti mahasiswa yang melakukan pembelian barang-barang yang tidak perlu dan menghambur-hamburkan uang demi keperluan yang tidak begitu penting itu hanya untuk ajang pamer dan memperlihatkan bahwa pola hidup mahasiswa yang demikian itu lebih tinggi dibanding mahasiswa lainnya. Tujuan terselubungnya adalah untuk mendapatkan prestise atau pujian dilihat dari citra pergaulannya (respon).
Blumer menciptakan istilah interaksionisme simbolik pada tahun 1937 dan menulis beberapa artikel essay yang menjadi instrumen penting bagi perkembangannya. Menurut Blumer, antara teori yang dikemukakan Mead dan dirinya keduanya mengabaikan proses penting yang memberikan makna atas perilakunya sendiri (Morrione, 1988).  Menurut Blumer, kaum behavioris, dengan penekanan mereka pada dampak stimulus external terhadap perilaku individu jelas merupakan reduksionis phsikologis.
Menurut Mead, keseluruhan sosial mendahului pemikiran individual baik secara logika maupun secara temporer. Bahwa kelompok sosial muncul lebih dahulu, dan kelompok sosial menghasilkan perkembangan keadaan mental kesadaran diri. Artinya, mental mahasiswa konsumtif terbentuk dari keadaan lingkungan atau teman dalam pergaulan mereka. Seorang mahasiswa yang tadinya sederhana menjadi berpola hidup konsumtif desebabkan oleh pengaruh gaya hidup mahasiswa lain yang terus menerus Ia peroleh dalam lingkungan pergaulan.
Tindakan hanya melibatkan satu tindakan, satu orang, tindakan sosial melibatkan dua orang atau lebih. Menurut Mead, gerak atau sikap isyarat adalah mekanisme dasar dalam tindakan sosial dan dalam proses sosial yang lebih umum. Sedangkan gesture adalah gerakan organisme pertama yang bertindak sebagai rangsangan khusus yang menimbulkan tanggapan (secara sosial) yang tepat dari organisme kedua. Isyarat menjadi simbol signifikan bila muncul dari individu yang membuat simbol-simbol itu sama dengan sejenis tanggapan yang diperoleh dari orang yang menjadi sasaran isyarat. Simbolik signifikan juga memungkinkan interaksi simbolik. Artinya orang dapat saling berinteraksi tida hanya melalui isyarat tetapi juga melalui simbol.
Simbol dalam gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa UNNES dalam peningkatan prestise ditunjukan melalui pakaian-pakaian yang dikenakan,parfum yang digunakan, sepatu, dan sendal beserta merek yang tertera didalamnya. Itu artinya dengan barang-barang yang dikonsumsinya dapat mencitrakan bagaimana pergaulan yang dilakukan mahasiswa tersebut.
Dalam pergaulan tak lepas dari diri kita sendiri. Menurut Mead pada dasarnya merupakan kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah objek. Yaitu kemampuan khusus untuk menjadi subyek maupun obyek. Contoh: diri tidak terlibat dalam tindakan yang dilakukan karena kebiasaan atau dalam pengalaman fisiologis spontan tentang kesakitan atau kesenangan. Dimana diri sangat berhubungan secara dialektis dengan pikiran. Artinya, di satu pihak Mead menyatakan bahwa tubuh bukanlah diri dan baru akan menjadi diri bila pikiran telah berkembang. Sebaliknya diri dan refleksitas penting bagi perkembangan pikiran. Oleh karena itu diri merupakan aspek lain dari proses sosial menyeluruh dimana individu adalah sebagai bagiannya.
Mekanisme umum untuk mengembangkan diri adalah refleksitasatau kemampuan dalam menempatkan didri secara tak sadar kedalam tempat orang lain dan bertindak seperti mereka bertindak. Selain itu diri juga memungkinkan orang berperan dalam percakapan dengan orang lain. Untuk mempunyai diri, individu harus mampu mencapai keadaan ”di luar dirinya sendiri” sehingga mampu mengevaluasi diri sendiri, maupun menjadi obyek bagi dirinya sendiri. Dimana dalam bertindak rasional kini mereka mencoba memberikan diri sendiri secara impersonal, obyektif dan tanpa emosi.persoalannya orang tidak dapat mengalami diri sendiri secara langsung seperti dikatakan Mead, ”hanya dengan mengambil peran orang lainlah kita mampu kembali ke diri kita sendiri” (1959: 184-185).

C.    KERANGKA BERFIKIR
Kerangka berfikir memaparkan dimensi kajian utama, factor kunci, variable- variable dan hubungan- hubungan antar dimensi yang disusun dalam bentuk narasi dan grafis.
Kerangka berfikir dalam penelitian ini didasarkan pada asumsi- asumsi bahwa ada sejumlah pengaruh dari gaya hidup yang terdiri dari kondisi ekonomi keluarga, lingkungan tempat tinggal (kost atau rumah), hubungan (pergaulan) mahasiswa dengan masyarakat, perkembangan informasi, dan teknologi, sehingga menimbulkan gaya hidup konsumtif. Disamping itu juga ada hubungan dengan tata kehidupan kampus yang mempengaruhi gaya hidup dan konsumtif yang dilakukan mahasiswa. Dimana semua pernyataan tersebut bertujuan untuk meningkatkan prestise dikalangan mahasiswa yang selalu berhubungan dengan gengsi. Kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan dibawah ini :




Mahasiswa

Konsumtif

Gaya hidup
 




Hubungan / pergaulan
Kondisi ekonomi
Lingkungan tempat tinggal
Perkembangan informasi dan teknologi


Prestise

Kehidupan kampus
               
»»  READMORE...

Rabu, 30 November 2011

KEPUTUSAN ORANGTUA DALAM MEMILIH PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH NEGERI FAVORIT (Kasus Masyarakat Desa Trayeman, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Trayeman adalah sebuah desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal yang tidak dijadikan Kelurahan. Trayeman terletak di jalur pesisir pantai utara Jawa dengan luas wilayah 93 Ha. Masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai karyawan swasta, namun ada juga yang menjadi pedagang, PNS, jasa, TNI/POLRI, buruh tani, nelayan, pertukangan, pemulung, dan buruh.
Walaupun dengan luas wilayah yang tidak terlalu besar, Desa Trayeman termasuk wilayah yang padat penduduknya. Jumlah penduduknya sekitar 4.122 jiwa yang terdiri dari 2.098 laki-laki dan 2.024 perempuan. Desa Trayeman ini dibagi kedalam beberapa wilayah dan terdiri dari 17 Rt serta 4 Rw yang memiliki 1.127 kepala keluarga (Data Monografi Desa Trayeman Tahun 2011). Mayoritas masyarakat Desa Trayeman beragama Islam. Masyaratnya bersifat heterogen seperti masyarakat kota pada umumnya.
Pola pikirvyang diterapkan masyarakat pada jaman dulu terutama masalah pendidikan sudah tidak diterapkan lagi karena pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam menjalani kehidupan khususnya pada jaman sekarang ini. Segala sesuatu didasarkan atas pendidikan yang dimiliki, khususnya dalam mencari suatu pekerjaan karena dunia sekarang penuh dengan persaingan yang ketat sehingga individu dimasa sekarang ini harus mempunyai bekal pendidikan yang memadai.
Saat ini sudah banyak orangtua yang lebih memilih sekolah sebagai sebagai tempat untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak mereka. Hal ini disebabkan karena kesibukan orangtua dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga secara objektif orangtua memerlukan lembaga tertentu untuk menggantikan sebagian fungsinya sebagai pendidik yang baik.
Orangtua memiliki harapan agar anaknya dapat bersekolah. Tujuannya yaitu agar masa depan anaknya menjadi lebih baik lagi. Untuk itu, pada masyarakat yang telah maju, hampir semua orangtua mengirimkan anak-anak mereka ke pendidikan formal atau sekolah. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang hidup di kota-kota besar saling berebut mendaftarkan anak-anak mereka memasuki sekolah yang tergolong favorit. Hal ini seperti yang terjadi pada sebagian masyarakat Desa Trayeman , Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal yang memutuskan agar anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik bagi masa depannya nanti. Sekolah yang dipilih orangtua ini adalah SMA Negeri 1 Slawi, Kabupaten Tegal.
Keputusan yang diambil orangtua terutama yang tinggal di Desa Trayeman sebenarnya cukup berat, karena melihat kondisi ekonomi orangtua yang tergolong pada ekonomi menengah kebawah. Orangtua yang tergolong golongan ekonomi bawah mayoritas bekerja sebagai wiraswasta atau pedagang yang rata-rata penghasilan kurang lebih sekitar Rp 20.000-Rp 30.000/hari, sedangkan bagi orangtua yang bekerja sebagai buruh penghasilannya sekitar Rp 10.000-Rp 15.000/hari. Kondisi ekonomi yang kurang mendukung tersebut tidak menyurutkan niat orangtua untyk tetap memilih SMA Negeri 1 Slawi sebagai tempat menuntut ilmu bagi anaknya.
SMA Negeri 1 Slawi merupakan sekolah negeri favorit yang terdapat di Kecamatan Slawi, kabupaten Tegal. Sekolah ini memiliki mutu yang sangat baik dibandingkan dengan SMA Negeri lainnya yang terdapat di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal. SMA Negeri 1 Slawi merupakan sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional sehingga siswanya dituntut untuk aktif yang tentunya mengajarkan siswanya agar mampu berbicara didepan umum bagi kehidupannya kelak.
SMA Negeri 1 Slawi juga memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang bisa menjadi nilai tambah bagi mutu atau kualitas sekolah tersebut selain prestasi yang diperileh dari bidang akademis karena ada beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang sering ,endapat penghargaan. Kegiatan ekstrakurikuler yang terdapat di sekolah ini diantaranya adalah PMR, PKS, Komputer, Olahraga, Seni Tari, Paduan Suara, Bela Diri, Pramuka, Teater, PASKIBRA.
Penelitian ini dimaksudkan untuk membahas permasalahan mengenai bagaimana kondisi sosial ekonomi orangtua yang memilih pendidikan anak di sekolah negeri favorit serta alasan apa saja yang melatarbelakangi keputusan orangtua memilih pendidikan anak di sekolah negeri favorit di Desa Trayeman. Meskipun dapat dilihat bahwa pada masyarakat Trayeman bisa dikatakan sebagai masyarakat yang kondisi ekonomi menengah kebawah, tetapi masyarakat yang ekonomi bawah mampu berusaha meyekolahkan anaknya untuk bersekolah di SMA Negeri favorit di daerahnya. Ini merupakan perjuangan orangtua demi anaknya agar mampu mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Oleh karena itu, permasalahan yang dipilih pada penelitian ini dalam bentuk skripsi  dengan judul “Keputusan Orangtua Dalam Memilih Pendidikan Anak Di Sekolah Negeri Favorit (Kasus Masyarakat Desa Trayeman, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal)”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasakan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka permasalahan yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana karakteristik SMA Negeri 1 Slawi, Kabupeten Tegal?
2.      Bagaimana kondisi sosial ekonomi orangtua yang memilih pendidikan anak di SMA Negeri 1 Slawi, Kabupaten Tegal?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagi berikut:
1.      Mengetahui karakteristik SMA Negeri 1 Slawi, Kabupaten Tegal.
2.      Mengetahui kondisi sosial ekonomi orangtua yang memilih pendidikan anak di SMA Negeri 1 Slawi, Kabupaten Tegal.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini dapat berupa manfaat teoritis dan manfaat praktis, berikut penjelasannya :
1.      Manfaat teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan keilmuan dalam bidang akademis dan member wacana tentang keputusan orangtua dalam memilih pendidikan anak di sekolah negeri favorit.
2.      Manfaat praktis
a.       Dapat memberi informasi kepada para orangtua mengenai arti pentingnya pendidikan bagi seorang anak dalam memperolah bekal untuk masa depannya terutama pendidikan yang bersifat formal.
b.      Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan yang dapat memperkaya kepustakaan dan dapat dijadikan sebagai bahan pembanding untuk penelitian yang relevan.



»»  READMORE...

Selasa, 29 November 2011

KEBERADAAN KOMUNITAS MANEGES SEBAGAI PENGANUT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA SEBAGAI PENGANUT KEJAWEN DI KECAMATAN SLAWI, KABUPATEN TEGAL


PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, budaya, bahasa, dan agama. Keberagaman suku bangsa, budaya, bahasa, budaya, dan agama pada dasarnya justru memperkaya khasanah budaya bangsa. Salah satu wujud budaya bangsa Indonesia adalah budaya spiritual yang berakar pada kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang pada dasarnya merupakan warisan leluhur budaya bangsa. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai slah satu aspek warisan budaya bangsa (spiritual) secara realistis masih hidup dan berkembang serta dihayati oleh sebagian masyarakat Indonesia.
Kepercayaan masyarakat yang hidup dan berkembang disetiap suku, etnis, desa merupakan kebudayaan lokal yang dapat memberikan dan mencerminkan ciri bagi daerah setempat. Kepercayaan masyarakat dengan unsur yang melekat didalamnya terkandung nilai peradaban manusia, dapat menjadi pendukung upaya pembentukan kepribadian dan jati diri bangsa. Sebagai salah satu unsure kebudayaan lokal, kepercayaan masyarakat dapat menjadi perekat bagi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Salah satu suku yang terdapat di Indonesia adalah suku Jawa. Masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang paling banyak tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Namun, meskipun demikian tetap mempertahankan budaya dan tradisi Jawa sebagai identitasnya. Orang Jawa dibedakan dari kelompok- kelompok etnis lain di Indonesia oleh latar belakang sejarah yang berbeda, oleh bahasa dan kebudayaannya (Suseno, 2001 : 12).
Berangkat dari keyakinan, maka orang memeluk agama. Kadangkala orang menjadi sangat fanatic terhadap agama atau kepercayaan yang dianutnya, bahkan dengan sukarela berkorban untuk agama yang mereka anut. Bukan hanya harta, kadagkala nyawapun menjadi taruhannya. Begitu juga dengan anggota Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di  Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
Menurut saya hal ini sangat aneh dan membuat hati setiap orang menjadi bimbang apabila timbul berbagai aliran kepercayaan seperti aliran kejawen. Tidak diberi wadah yang cukup memadai, tumbuh berkembang dimana- mana ibarat benih yang ditabur diberbagai tempat, serta tumbunya rerumputan liar yang kiranya tumbuh dan berkembangnya tidak dapat dipantau dan diatur secara jelas dan rapi. Sebetulnya mungkin juga bukan belum disediakan tempat yang cocok bagi berbagai aliran kepercayaan tersebut, tetapi mungkin karena yang harus ditempatkan terlalu banyak maka tempat yang disediakan tidak cukup atau yang membuat tempat kurang ahli, sehingga tampaknya agak semrawut (Bintoro, 2002)
Himpunan Penganut Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan tempat bagi para penganut kepercayaan yang ada di Indonesia. Pada 1973 MPR menetapkan kepercayaan (terhadap Tuhan Yang Maha Esa) diakui oleh Negara disamping agama. Perhatian kepada kepercayaan semakin besar diakui di negeri ini ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1978 menetapkan pembentukan Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikn dan Kebudayaan. Salah satu penganut penganut kepercayaan yang ada di Indonesia adalah Himpunan penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi masih sangat menjaga nilai- nilai budaya Jawa.
Himpunan ini merupakan wadah bagi para penganut Kejawen yang ada di Desa Trayeman. Penganut kejawen yang ada di Kecamatan Slawi (walaupun tidak semuanya) selalu mengamalkan filsafah- filsafah jawa dalam kehidupn mereka sehari- hari dalam kehidupan bermasyarakat mereka pula. Seperti tepa selira yaitu adanya sifat tenggang rasa atau toleransi dan saling menghargai terhadap tetangga atau masyarakat disekitar mereka sehingga ada rasa saling menjaga perasaan masing- masing dalam perbedaan keyakinan yang mereka anut. Banyak perbedaan antara ajaran yang dianut oleh pemeluk Islam dan Kejawen didaerah yang saya amati. Salah satunya adalah bagi agama Islam, berkerudung merupakan kewajiban. Tapi bagi penganut kepercayaan Kejawen hal itu tidaklah wajib. Kemudian saat mereka beribadah pun tidak harus diwajibkan di masjid atau di moshola, tetapi ada tata cara tersendiri yang akhirnya sebagian dari mereka ada yang disebut sebagai Islam Kejawen.
Masyarakat jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya ada dan terjadi di dunia ini, Tuhanlah yang pertama kali ada di dunia ini. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya atas kehendakNya. Masyarakat Jawa percaya bahwa urusan usia, jodoh, dan rizki itu semuanya ada ditangan Tuhan. Maksud dari hal ini adalah mereka menganggap bahwa pokok kehidupan dan status dirinya sudah ditetapkan sejak Ia lahir, nasibnya sudah ditentukan sebelumnya saat Ian masih berada dalam kandungan, jadi mereka herus sabar dalam menanggung kesulitan yang ada dalam kehidupannya.
Kepercayaan Kejawen dapat diungkapkan dengan baik oleh mereka yang mengerti dan memahami tentang rahasia- rahasia kebudayaan Jawa, dan bahwa Kejawen ini seringkali diwakili oleh golongan elite priyayi lama dan keturunannya. Kesadaran akan budaya ini seringkali menjadi kebanggan tersendiri sebagai identitas cultural. Orang- orang inilah yang memelihara warisan budaya Jawa secara mendalam yang dapat dianggap sebagai Penganut Kepercayaan Kejawen.
Dari penjelasan diatas penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana kondisi keberadaan masyarakat Kejawen dan mengetahui bagaimana pandangan- pandangan penganut Kejawen yang terdapat di Himpunan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa  Kecamatan Slawi , Kabupaten Tegal mengenai ajaran- ajaran Kejawen.

2.      RUMUSAN MASALAH 
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka permasalahan yang akan dipelajari adalah mengenai Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Kecamatan Slawi , Kabupaten Tegal sebagai penganut Kejawen. Permasalahan tersebut dapat dirinci dalam bentuk pertanyaan, yaiti sebagai berikut :
1.      Bagaimana kondisi keberadaan masyarakat Kejawen di Kecamatan Slawi , Kabupaten Tegal?
2.      Bagaimana pandangan Penganut kepercayaan Kejawen di Kecamatan Slawi , Kabupaten Tegal terhadap ajaran Kejawen yang dianutnya?
3.      Bagaimana bentuk- bentuk praktek keagamaan yang dilakukan oleh Penganut kepercayaan Kejawen di Kecamatan Slawi , Kabupaten Tegal sebagai penghayat Kejawen?

3.      TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui kondisi keberadaan masyarakat Kejawen di Kecamatan Slawi , Kabupaten Tegal.
2.      Mengetahui pandangan Penganut kepercayaan Kejawen di Kecamatan Slawi , Kabupaten Tegal terhadap ajaran Kejawen yang dianutnya.
3.      Mengetahui bentuk- bentuk praktek keagamaan yang dilakukan oleh Penganut kepercayaan Kejawen di Kecamatan Slawi , Kabupaten Tegal sebagai penghayat Kejawen.
4.      MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini dapat berupa manfaat teoritis dan manfaat praktis, berikut penjelasannya :
1.      Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi penelitian- penelitian berikutnya serta menambah pustaka ilmu pengetahuan bagi masyarakat dalam kajian religi masyarakat Jawa.
2.      Manfaat Praktis
Manfaat secara praktisnya ialah diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi dan bahan pertimbangan bagi pengambilan kebijakan sehubungan dengan Kejawen masih tetap mempertahankan kebudayaannya.

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
1.     TINJAUAN PUSTAKA
a.      Sistem Religi sebagai Wujud Kebudayaan
Sistem religi atau sistem kepercayaan merupakan salah satu unsur dalam kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universal. Istilah cultural universal menunjukan bahwa unsur- unsur tersebut bersifat universal atau luas yang artinya dapat dijumpai pada setiap kebudayaan dimanapun di dunia ini ( Koentjoroningrat  1990 : 203 ). Terdapat tujuh unsur kebudayaan, yaitu :
1.      Bahasa
2.      Sistem Pengetahuan
3.      Organisasi Sosial
4.      Sistem peralatan hidup dan tekhnologi
5.      Sistem pencaharian hidup
6.      Sistem Religi
7.      Kesenian
Sistem religi merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan di dunia. E.B Taylor mendefinisikan kebudayaan sebagai suatu kompleksitas yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan- kemampuan serta kebiasaan- kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat (Soekanto 1987: 154). Sedangkan menurut Koentjoroningrat kebudayaan sebagai keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus didapat dari proses belajar beserta keseluruhan hasil budi dan karyanya (Koentjoroningrat 1974:19).
Agama atau religi yang dianut suatu masyarakat merupakan wujud dari kebudayaan. Dalam wujud ide, sistem religi mempunyai wujudnya sebagai sistem keyakinan, dan gagasan tentang Tuhan, dewa, roh, neraka, surga, dan sebagainya. Dalam aktifitas, wujudnya berupa upacara. Selain itu setiap sistem religi juga mempunyai wujud berupa benda suci dan bersifat religius.
Koentjoroningrat (2002:201-202) mengemukakan bahwa religi terbagi kedalam lima unsur yang terdiri dari :
1.      Emosi keagamaan merupakan suatu getaran yang menggerakan jiwa manusia. Emosi keagamaan yang mendasari setiap perilaku yang menyebabkan religi itu menyebabkan timbulnya sifat keramat dari perilaku tersebut dan sifat itu pada gilirannya memperoleh nilai keramat.
2.      Sistem kepercayaan, keyakinan, atau bayang- bayang manusia tentang bentuk dunia, alam gaib, hidup, dam kematian (maut).
3.      Sistem ritual dan upacara keagaam yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia gaib berdasarkan kepercayaan sistem kepercayaan tersebut.
4.      Kelompok keagamaan atau kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi berikut sistem upacara keagamaannya.
5.      Alat- alat fisik yang digunakan dalam ritual dan upacara keagamaannya.

b.      Pandangan Hidup Orang Jawa
Secara antropologi budaya dapat dikatakan bahwa yang disebut suku jawa adalah orang yang secara turun menurun menggunakan bahasa jawa dengan ragam dialek dalam kehidupannya sehari- hari (Satoto 2005: 37). Masyarakat jawa yang dimaksud disini adalah masyarakat yang beretnis jawa yang masih mempunyai komitmen terhadap kebudayaan jawa apakah tinggal di pulau jawa atau tinggal didaerah luar pulau jawa (Damami 2002:12).
Walaupun istilah Kejawen identik dengan pandangan hidup orang jawa. Tapi bukan berarti bahwa setiap orang yang tergolong dalam etnik jawa pasti mempunyai pandangan hidup demikian, halini seperti yang dikemukakan C. Klukohn dalam Sujatmo (1992:42) mengenai batasan kebudayaan bahwa kebudayaan adalah suatu pola hidup eksplisit dan emplisit yang merupakan suatu sistem yang terbentuk oleh sejarah, yang cenderung diikuti oleh seluruh atau sebagian dari suatu kelompok.
Ciri pandangan hidup orang jawa adalah realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan numinus antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodratiyang dianggap keramat. Orang jawa menganggap bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya, mereka hanya menjalankan saja. Dasar kepercayaan jawa adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini pada hakikatnya adalah satu atau merupakan kesatuan hidup. Kepercayaan jawa memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman- pengalaman yang religius.
Tradisi dan tindakan orang jawa selalu berpegang kepada dua hal. Pertama, kepada filsafat hidupnya yang religius dan mistis. Kedua, pada etika hidup yang menjunjung tinggi moral dan derajat hidup. Pandangan hidup yang selalu menghubungkan segala sesuatu dengan Tuhan yang serba rohaniah, mistis, dan magis, dengan menghormati nenek moyang, leluhur serta kekuatan yang tidak tampak oleh indera manusia (Satoto 2005:45). Oleh karena itu, orang jawa memakai simbol- simbol kesatuan, kekuatan, dan keluhuran. Pertama yang berhubungan dengan roh leluhur, sesajen, menyediakan bunga dan air putih, membakar kemenyan, ziarah ke makam, dan keselamatan. Kedua yang berhubungan dengan kekuatan seperti menyepi (diam di tempat sepi), memakai keris, tombak, dan jimat. Ketiga yang berhubungan dengan keluhuran seperti, laku utomo (tindakan utama, terpuji).

c.       Kejawen Sebagai Religi Jawa
Ciri khas utama agama Kejawen adalah adanya perpaduan antara animisme agama Hindu dan Budha. Namun pengaruh agama Islam dan juga kristen nampak pula. Kepercayaan ini merupakan sebuah kepercayaan sinkretisme. Ciri paling utama budaya Kejawen adalah sifatnya yang religius. Orang jawa pada umumnya percaya tentang adanya Tuhan (Sujatmo 1992:47).
Salah satu sifat dari masyarakat jawa sendiri adalah bahwa mereka religius dan ber-Tuhan. Sebelum agama- agama besar datang ke Indonesia, khususnya jawa, mereka sudah mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang melindungi dan mengayomi mereka, dan keberagaman ini semakin berkualitas dengan masuknya agama- agama besar seperti Hindu, Budha, Islam, Katholik, dan kristen protestan ke jawa (Darori 2000:85).
Kejawen juga merupakan atau menunjuk pada sebuah etika dan sebuah gaya hidup yang diilhami oleh pemikiran jawa. Sehingga ketika sebagian mengungkapkan kejawaan mereka dalam praktik beragama Islam, misalnya seperti dalam mistisme, pada hakikatnya hal itu adalah suatu karakteristik keanekargaman religius. Meskipun demikian mereka tetap orang jawa yang membicarakan kehidupan dalam persperktif mitologi wayang, atau menafsirkan salat lima waktu sebagai pertemuan pribadi dengan Tuhan.
Pemahaman orang jawa Kejawen ditentukan oleh kepercayaan mereka pada berbagai macam roh- roh yang tidak kelihatan yang dapat menimbulkan bahaya seperti kecelakaan atau penyakit apabila mereka dibuat marah atau penganutnya tidak hati- hati. Untuk melindungi semuanya itu, orang jawa Kejawen memberi sesajen atau caos dahar yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian- kejadian yang tidak diiginkan dan mempertahankan batin dalam keadaan tenang. Sesajen yang digunakan biasanya terdiri dari nasi dan aneka makanan lain, bunga dedaunan, serta kemenyan. Telah disepakati dikalangan sejarawan bahwa, pada jaman jawa kuno masyarakat jawa menganut kepercayaan animisme/dinamisme. Yang terjadi sebenarnya adalah masyarakat jawa saat itu telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat tak terlihat (gaib), besar, dan menakjubkan (www.google.com).
Salah satu wujud dan sifat khas masyarakat Jawa adalah bersikap prihatin dengan mengutamakan lelaku. Mengutamakan lelaku disini bertujuan untuk menuju kepada jalan makrifat mencapai ‘Jumbuhing Kawula lan Gusti’.
Ajaran kejawen tentang thalabul ilmi atau tentang menuntut ‘ngelmu dan lelaku’ dapat kita jumpai dalam ‘Serat Wedhatama’ karangan Sri Mangkunegara IV, Pupuh II tembang pucung bait pertama yang berbunyi:
Ngelmu iku kelakone kanthi  laku lekase lawan kas, tegase kas nyantosani satya budha pangekese dur angkara”. Yang berarti ilmu itu harus diperoleh melalui belajar, dalam belajar niatnya harus kuat dan mantap dan sabar tawakal untuk menghancurkan sifat angkara murka.
Jika ajaran diatas diterapkan dalam kehidupan nyata maka mengandung makna bahwa untuk mencapai kesuksesan dan kesejahteraan hidup, entah itu dalam hal material maupun spiritual diperlukan sebuah dasar pondasi yang kuat dan kokoh, kemudian harus memahami dasar ilmu tersebut baik secara teoritis maupun aplikatif melalui praktik (lelaku) dalam kehidupan riil. Pondasi yang kuat diatas digambarkan sebagai kekuatan jiwa yang memiliki daya hangngedab-edabi (dahsyat) sebagai wujud semangat makaryo (bekerja) untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu juga diimbangi dengan semangat pengabdian yang tulus untuk manembah artinya menjalani aktivitas ibadah keagamaan (hablum minallah), lelaku spiritual & ritual budaya.
Konsep keseimbangan tersebut juga berlaku sebagai dasar falsafah hidup orang jawa, Jika orang Jawa mengenal konsep : ‘Narimo ing Pandum’ (menerima takdir Illahi) bukan berarti dalam memenuhi kebutuhan hidup cukup dengan bermalas-malasan dan ibarat menunggu rezeki yang turun dari langit saja, artinya bahwa orang Jawa pada umumnya memiliki sikap prihatin dan etos kerja yang kuat untuk terus berusaha makaryo nggayuh kamulyaning gesang ndonya akherat.
Sikap hidup orang Jawa yang diwarisi dari leluhurnya didalam lelaku dan usahanya untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup. Sikap hidup yang demikian itu tampak dan diwujudkan sebagai sikap ‘prihatin’, yang intinya sikap hidup yang sederhana tidak berfoya-foya menghamburkan waktu & uang atau melampiaskan hawa nafsu untuk mendapatkan kenikmatan semu yang sementara saja.
Orang yang prihatin bukan berarti selalu bersedih-sedih, tidak menikmati hidup, senantiasa berpuasa, bersemedi, tetapi prihatin berarti bersikap, berpikir dan bertindak dengan penuh kesederhanaan, sesuai dengan kemampuan & kompetensi masing-masing.
Ajaran keprihatinan mengandung unsur kesederhanaan yang senantiasa terjelma dalam tatanan kehidupan tradisi, budaya dan spiritual kejawen. Dengan prinsip keprihatinan dan kesederhanaan tersebut setiap orang pasti akan dapat mencapai sesuatu yang maksimal sesuai dengan tolok ukur dan kemampuan masing-masing pribadi, tidak dengan tolok ukur orang lain terutama untuk sesuatu yang sifatnya berlebihan dibandingkan dengan kemampuan pribadinya. Sikap laku prihatin diatas sejalan dengan sikap yang selalu bersyukur dan ikhlas menerima setiap karunia Illahi.
Ajaran tentang lelaku dan ngelmu kejawen juga menunjukkan konsep kesederhanaan dalam berpikir dan berbuat, intinya sebaiknya kita tidak memimpikan menggapai bintang dilangit, tetapi hendaknya meraih saja apa yang mampu kita raih, yaitu belajar ngelmu yang bermanfaat dan mampu menjadi bekal hidup dan sarana untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan alam nantinya (www.google.com).


2.      LANDASAN TEORI
Teori yang digunakan dalam mengkaji kepercayaan Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal adalah teori fenomenologi. Fenomenologi berasal dari istilah fenomena yang mengacu pada apa yang sudah pasti dalam persepsi atau kesadaran dari individu yang sadar, dengan demikian fenomenologi terdiri atas usaha untuk menjabarkan fenomena kesadaran ( Philipsan 1972:121 dalam Hamdanah 2005:25). Sebagai metode, fenomenologi mempelajari dan melukiskan ciri-ciri intrinsik dan subyek (manusia) serta serta kesadarannya ( Hamdanah 2005:26 ).
Ada beberapa ciri pokok fenomenologi yang dilakukan oleh peneliti fenomenologis yaitu :
a.       Fenomenologis cenderung mempertentangkannya dengan “naturlisme” yaitu yang disebut objektivisme dan positivisme, yang telah berkembang sejak zaman Reanisans dalam ilmu pengetahuan modern dan tekhnologi.
b.      Secara pasti, fenomenologis cenderung memastikan kondisi yang mengacu pada apa yang dinamakan oleh Husserl, yang dalam hal ini merupakan kesadaran tetntang suatu benda itu sendiri secara jelas dan berbeda dengan yang lainnya, dan mencakupi untuk sesuatu dari segi itu.
c.       Fenomenologis cenderung percaya bahwa bukan hanya sesuatu benda yang ada dalam dunia alam dan budaya.
Teori fenomenologi memeriksa dan menganalisa kehidupan batiniyah individu, yaitu mengenai pengalamannya mengenai fenomena atau penampakan sebagaimana terjadi dalam apa yang disebut arus kesadaran. Lebih lanjut Jackson menjelaskan bahwa fenomenologi menentang pemujaan atas hasil penelitian ilmiah. Jadi obyektivisme dan subyektivisme harus diabaikan karena yang diutamakan adalah pengalaman sebagai jalan menuju kebenaran.
Fenomenologi kadang- kadang digunakan sebagai perspektif filosofi dan juga digunakan sebagai pendekatan dalam metodologi kualitatif. Fenomenologi memiliki riwayat yang cukup panjang dalam penelitian sosial termasuk psikologi, sosiologi, dan pekerjaan sosial. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman- pengalaman subjektif manusia dan intrepetasi- intrepetasi dunia. Dalam hal ini, para peneliti ingin memahami bagaimana dunia muncul kepada orang lain seperti halnya bagaimana kepercayaan Kejawen muncul dihadapan masyarakat umum.
Sehingga dalam menganut kepercayaan Kejawen para penganutnya percaya sesuai dengan keadaan batin mereka. Mereka yakin dengan apa yang mereka anut. Walaupun tidak semua orang mengetahui ajaran tersebut. Sesuai dengan teori fenomenologi yang melakukan tindakan sesuai dengan pengalaman berdasarkan fenomena yang terjadi. Sosiologi fenomenologis pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh filsuf Edmund Husserl dan Alfred Schultz.
Penelitian ini mencoba mengungkapkan pandangan hidup orang Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal mengenai ajaran- ajaran Kejawen dan untuk mengetahui bentuk prakti keagamaan yang dilakukan oleh komunitas Maneges Kejawen tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi yang lebih memusatkan perhatian pada dimensi makna dan pengetahuan ( penghayat kejawen ). Pendekatan ini juga bertujuan untuk mengetahui tata cara peribadatan mereka dan ciri- ciri kepercayaan Kejawen.

METODOLOGI PENELITIAN
1.      Dasar Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sehingga akan menghasilkan data- data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut Bogdan dan Taylor, metode kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata- kata yang tertulis tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong 2002:4). Menurut Nasution (2003:5), pendekatan kualitatif adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berorientasi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui keberadaan Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai penghayat Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
2.      Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal. Pemilihan lokasi penelitian ini dikarenakan di Kecamatan Slawi terdapat Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang maha Esa yang sampai saat ini masih aktif sebagai Penghayat Kejawen.
3.      Fokus Penelitian
Fokus penelitian adalah bagaimana pandangan- pandangan penghayat Kejawen yang terkumpul dalam Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Kecamatan Slawi mengenai ajaran- ajaran Kejawen itu sendiri serta bagaimana bentuk praktek- praktek keagamaan yang dilakukan Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai penghayat Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
4.      Sumber Data
Menurut Lofland (Moleong 2004:157), sumber data utama yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah kata- kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah :
a.       Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah individu atau kelompok individu yang akan diteliti. Subyek penelitian dapat dikatakan orang atau sekelompok orang yang ingin diteliti. Subyek penelitian dapat berupa orang perorangan, sekelompok orang, lembaga sosial, ataupun kehidupan bersama didalam masyarakat. Subyek dalam penelitian ini adalah anggota Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai penghayat Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
b.      Informan
Informan adalah individu atau orang- orang tertentu yang diwawancarai untuk keperluan informasi. Inforaman yaitu orang yang memberikan informasi atau data yang diperlukan peneliti. Informasi ini dipilih dari beberapa orang yang betul- betul dapat dipercaya dan mengetahui obyek yang diteliti. Informan dalam penelitian ini adalah anggota Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai penghayat Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
c.       Sumber buku merupakan sumber tertulis yaitu dari buku- buku dan dokumen- dokumen lainnya yang dapat memberikan informasi dalam penelitian.

5.      Metode Pegumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
a.       Metode Wawancara
Menurut Moleong (2004:186) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Wawancara dalam bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu (Mulyana, 2002:180). Dalam tekhnik wawancara ini terjadi interaksi langsung antara peneliti dengan informan. Tekhnik ini juga dilakukan secara terbuka, akrab, dan kekeluargaan. Sehingga interaksi yang terjadi antara peneliti dan informan tidak terkesan kaku dan informan yang diperoleh akurat, tidak mengada-ada. Wawancara dilakukan untuk mengetahui bagaimana pandangan- pandangan penghayat mengenai ajaran Kejawen dan apa saja bentuk praktek- praktek keagamaan yang dilakukan oleh para penghayat yang tergabung dalam Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b.      Metode Observasi (Pengamatan)
Observasi adalah pengamatan atau pencatatan dengan sistematika fenomena- fenomenayang diselidiki. Dalam penelitian ini obyek yang akan diobservasi oleh peneliti yaitu segala hal yang terjadi di lapangan (lokasi penelitian). Hal- hal yang akan diobservasi antara lain:
Pandangan –pandangan Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengenai ajaran- ajaran Kejawen serta bagaimana bentuk praktek- praktek keagamaan yang dilakukan.
c.       Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal- hal atau variabel yang berupa catatan transkip, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda, dan sebagainya (Arikunto 1993:202). Studi dokumentasi dimaksudkan untuk melengkapi data dari wawancara dan observasi yang berupa catatan tertulis dan dapar dipertanggungjawabkan serta menjadi alat bukti yang resmi. Dalam penelitian ini dokumen yang digunakan adalah dokumen resmi yang ada di Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.

6.      Validitas Data
Dalam sebuah penelitian sebelumnya data dianalisis terlebih dahulu harus mengalami pemeriksaan. Tekhnik pengujian dalam menentukan validitas data adalah menggunakan tekhnik triangulasi. Triangulasi merupakan tekhnik pemeriksaan, keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu ( Moleong 2004:330). Dalam hal ini akan diperoleh dengan jalan membandingkan apa yang dikatakan secara pribadi dengan hasil wawancara dan isi suatu dokumen yang berkaitan tentang keberadaan Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.

7.      Analisis Data
Dalam penelitian, analisis data mempunyai kedudukan yang sangat penting. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang terpenting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang diceritakan pada orang lain ( Bogdab dan Biklen dalam Moleong 2004:248). Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif yaitu dengan analisis data non statiskik atau analisi induktif.
Menurut Seiddel (Moleong 2004:248) analisis data kulaitatif prosesnya berjalan sebagai berikut
1.      Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri.
2.      Mengumpulkan, memilah- milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya.
3.      Berpikir dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari, dan menemukan pola dan hubungan- hubungan dan membuat temuan- temuan umum.


DAFTAR PUSTAKA

Ø Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta
Ø Damami, Muhammad. 2002. Seri Kejawen 2002. Makna Agama dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta: LESFI
Ø Darori, Amin. 2000. Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media
Ø Koentjoroningrat. 1974. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat
Ø Koentjoroningrat. 1990. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Ø Koentjoroningrat. 2002. Pengantar Antropologi II: Pokok Etnografi. Jakarta: Rajawali Perss
Ø Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosada
Ø Satoto, Heru. 2005. Simbolisme dalam Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Teraju
Ø Sujatmo. 1992. Reorientasi dn Revitalisasi Pandangan Hidup Orang Jawa. Semarang: Dahara Prize



PEDOMAN OBSERVASI


Penelitian “Keberadaan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di  Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal” menggunakan metode penelitian Kualitatif. Oleh karena itu untuk memperoleh kelengkapan dan ketelitian data diperlukan pedoman observasi.

Aspek- aspek observasi dalam penelitian ini adalah :
1.      Gambaran umum Desa Trayeman.
2.      Gambaran umum Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen.
3.      Kondisi kehidupan keagamaan anggota Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen.
4.      Kondisi tingkat usia, pendidikan, latar belakang anggota Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen.
5.      Kondisi kehidupan sosial ekonomi anggota Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen.

PANDUAN WAWANCARA
Pedoman wawancara dalam penelitian “Keberadaan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal” adalah sebagai berikut :
A.    Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Slawi (Tegal).
B.     Identitas Informan
Nama                    :
Jenis Kelamin       :
Umur                    :
Pekerjaan              :
Alamat                  :
C.     Daftar Pertanyaan
Pernasalahan :
1.      Bagaimana pandangan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal tentang ajaran- ajaran Kejawen?
Indikator :
a.       Keberadaan Himpunan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
b.      Keanggotaan Himpunan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
c.       Pandangan angggota Himpunan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal tentang ajaran- ajaran Kejawen.


Pertanyaan :
a.       Keberadaan Himpunan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
1.      Kapan berdirinya Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi?
2.      Mengapa Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi didirikan?
3.      Apa tujuan didirikannya Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi?
4.      Apa visi Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi?
5.      Apa misi Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi?


b.      Keanggotaan Himpunan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
1.      Ada berapa jumlah anggota Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi?
2.      Dari mana saja asal anggota Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi?
3.      Bagaimana struktur keanggotaan Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi?
4.      Pergantian struktur struktur keanggotaan Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi berapa bulan/tahun sekali?
5.      Apa saja pekerjaan anggota Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kecamatan Slawi?
c.       Pandangan angggota Himpunan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal tentang ajaran- ajaran Kejawen.

Pertanyaan:
1.      Apa alasan Anda mengikuti ajarn Kejawen?
2.      Apa yang Anda ketahui mengenai ajaran Kejawen?
3.      Bagaimana persepsi Anda mengenai ajaran Kejawen itu sendiri?
4.      Mengapa aliran kebatinan Kejawen masih tetap dipercayai?
5.      Apa alasan melestarikan aliran Kejawen?
6.      Apakah sumber/kitab suci bagi penghayat Kejawen
7.      Bagaimanakah ajaran Kejawen yang ada di Himpunan Komunitas Maneges Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal?
8.      Apakah ada perbedaan antara ajaran yang ada di Komunitas Maneges Kejawen dengan yang ajaran Kejawen yang lain?

2.      Bagaimana bentuk- bentuk praktek keagamaan yang dilakukan oleh Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal sebagia penganut Kejawen?
Pertanyaan :
1.      Apa saja kegiatan yang dilakukan oleh  Himpunan Penganut Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai Penganut Kejawen di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal?
2.      Bagaimana bentuk kegiatan atau ritual keagamaannya?
3.      Kapan dilakukannya kegiatan keagamaan tersebut?
4.      Dimana biasanya dilakukan kegiatan ritual keagamaan tersebut?
5.      Apa tujuan dilakukannya kegiatan ritual keagamaan tersebut?
6.      Apakah ada manfaatnya?jika ada jelaskan!
7.      Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan ritual keagamaan tersebut?







»»  READMORE...